Terobosan Baru, UMM Bekali Sertifikasi Penerjemah TKI

Terobosan Baru, UMM Bekali Sertifikasi Penerjemah TKI

Terobosan Baru, UMM Bekali Sertifikasi Penerjemah TKI

Terobosan Baru, UMM Bekali Sertifikasi Penerjemah TKI
Terobosan Baru, UMM Bekali Sertifikasi Penerjemah TKI

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengeluarkan terobosan baru

. Mereka membekali mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) dengan sertifikasi penerjemah untuk tenaga kerja Indonesia (TKI).

Latar belakangnya lantaran banyaknya kekerasan yang terjadi menimpa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di tempat rantau kian memprihatinkan.

Beberapa penganiayaan yang dilakukan oleh majikan ini disebabkan perbedaan budaya, latar belakang, serta bahasa. Tak bisa dipungkiri, banyak TKI yang pergi merantau di negara lain tanpa dibekali dengan skill yang memadai.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Prodi Penerjemah Bahasa Arab (PBA)

, Ahmad Fathoni, Jumat (16/3). Menurutnya, seringnya terjadi perselisihan antara majikan dan TKI biasanya dapat berbuntut pada penganiayaan.

Sejauh ini, FAI tengah merumuskan program sertifikasi trainer untuk penerjemah TKI dan Tenaga Kerja Wanita (TKW). Sebelum munculnya sertifikasi trainer tersebut, pihaknya telah memiliki mata kuliah Bahasa Arab untuk haji dan wisata.

“Nantinya mahasiswa akan menjadi trainer pelatihan Bahasa Arab untuk calon TKI

khususnya negara-negara di Timur Tengah,” ujarnya, Jumat (16/3).

Fathoni menambahkan, PBA sudah mempunyai bekal untuk merealisasikan program ini yaitu modul Bahasa Arab yang dapat menjadi buku saku untuk para TKI.

Modul tersebut, mengajarkan Bahasa Arab formal dan non formal. Lebih dalam, modul ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh percakapan aktivitas keseharian, seperti dialog untuk sopir tentang bagaimana cara membuka pintu mobil, dialog jika majikan ingin mampir ke swalayan, dan berbagai kosa kata Arab lainnya.

“Kami bekali tidak hanya Bahasa Arab yang baku tapi juga bahasa Arab yang digunakan keseharian. Karena ketidakpahaman terhadap bahasa itu kadang yang membuat majikan mereka berbuat semaunya, ada kesenjagan dari segi bahasa,” tutur Fathoni.

Di masa yang akan datang, Fathoni dan tim akan membangun jaringan atau kerjasama dengan Penyalur Jasa TKI (PJTKI) di Indonesia sehingga program ini bisa berjalan dengan sistematis.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/puisi-lama/