Sejarah Antropologi
Pendidikan

Sejarah Antropologi

Sejarah Antropologi

Sejarah Antropologi

Dalam sejarah lahirnya antropologi, perkembangan ilmu tersebut melalui suatu tahapan yang panjang. Koentjaraningrat memaparkan bahwa lembaga-lembaga antropologi etnologi merupakan awal lahirnya antropologi.Jika disimak tentang perkembangan ilmu-ilmu bagian antropologi, boleh jadi etnografi merupakan bagian yang paling sukses dalam antropologi sosialdan budaya.
Akan tetapi apa sebenarnya manfaat yang dapat di petik dari studi-studi etnografi yang umumnya menangani komunitas-komunitas kecil?
Menurut Kuper ada 4 jawaban dan 4 fase, yaitu:
1.Menurut pemikiran evolusionistis, orang-orang yang di anggap primitif itu secara kesejarahan dapat memberikan pemahaman tentang cara hidup nenek moyang manusia.
2.Melihat gambaran ilmu-ilmu sosial, banyak ahli antropologi berpendirian bahwa penelitian dan perbandingan etnografi akan memudahkan perkambangan ilmu sosial yang benar-benar universal, menyentuh umat manusia, dan tidak membatasi diri pada studi-studi tentang masyarakat modern barat.
3.Sejumlh ahli antropologi yang dipengaruhi oleh etnologi dan kemudian sosio biologi, meyakini bahwasannya etnografi komparatif akan mengangkat unsur- unsur kemanusiaan yang universal.
4.Para humanis yang acap kali skeptis terhadap generalisasi-generalisasi mengenai prilaku manusia, berpendapat bahwa pemahaman terhadap kehidupan yang asing itu sendiri akan banyak gunanya.

a) Fase Pertama

Fase ini terjadi sebelum tahun 1890, yang diawali dengan kedatangan bangsa Eropa Barat untuk melihat suku-suku bangsa penduduk pribumi Afrika, Asia dan Amerika selama 4 abad. Akibatnya, beberapa daerah di Bumi ini terkena pengaruh negara-negara Eropa Barat.
Ekspansi bangsa Eropa Barat ke berbagai daerah di bumi ini ternyata menghasilkan suatu laporan tentang dunia luar Eropa barat. Laporan tersebut diperoleh dari para musafir, pelaut, pendeta agama Nasrani dan lain-lain. Didalam laporan tersebut terdapat suatu ilmu pengetahuan tentang diskripsi adat-istiadat, bahasa dan ciri fisik dari suku-bangsa Afrika, Asia, Oseania serta suku Indian yang terdapat di Amerika. Laporan tadi disebut Etnografi, atau diskripsi tentang bangsa-bangsa.
Selain itu, laporan yang diperoleh para musafir tersebut sangat menarik orang-orang Eropa Barat karena didalamnya mengandung beberapa kebudayaan yang sangat berbeda dengan kebudayaan yang dimiliki bangsa Eropa. Akan tetapi beberapa laporan yang diperoleh sering kali bersifat kabur. Dengan adanya kekurangan pada laporan yang dibuat oleh para pelaut itu, justru menarik perhatian kaum terpelajar di Eropa Barat untuk mempelajari lebih dalam. Hal ini menimbulkan 3 macam pandangan orang Eropa Barat terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania dan orang-orang Indian di Amerika, antara lain:
  • Beberapa Orang eropa menganggap bahwa bangsa-bangsa asing itu bukan manusia sebenarnya melainkan keturunan iblis. Kemudian munculah istilah primitives untuk menyebut bangsa asing tersebut.
  • Beberapa orang eropa memandang bahwa bangsa-bangsa asing tadi adalah contoh dari masyarakat yang masih murni(belum kemasukan kejahatan dan keburukan).
  • Beberapa orang eropa justru tertarik akan kebudayaan bangsa-bangsa asing tadi.
b). Fase Kedua
Fase yang kedua ini muncul kira-kira pertengahan abad ke-19. Didalam fase ini, orang-orang eropa mulai menyusun karangan-karangan etnografi berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat. Menurut cara berpikir mereka, masyarakat beserta kebudayaannya telah berevolusi dalam jangka panjang, dari tingkat kebudayaan yang rendah ke tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Yang dimaksud dengan kebudayaan tinggi misalnya kebudayaan bangsa Eropa, sedangkan bangsa-bangsa diluar Eropa dianggap kebudayaannya masih rendah atau sering disebut primitif.
Oleh karena itu, dengan munculnya karangan yang mengklasifikasikan data tentang keanekaragaman kebudayaan di seluruh dunia, maka timbulah suatu ilmu pengetahuaan yang disebut antropologi. Ilmu ini bertujuan untuk mempelajari masyarakat beserta kebudayaannya untuk mengetahui sejarah perkembangan dan penyebaran kebudayaan manusia.
c). Fase Ketiga
Fase ini muncul pada permulaan abad ke-20, bersamaan dengan berkembangnya penjajahan di daerah-daerah luar Eropa. Pada fase ini, Ilmu Antropologi banyak dibutuhkan oleh bangsa penjajah, untuk kepentingan pemerintah jajahannya. Hal ini dikarenakan, pemerintah kolonial tadi mengalami permasalahan dengan penduduk pribumi. Dengan demikian ilmu antropologi pada fase ini memiliki tujuan mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa untuk kepentingan pemerintah kolonial.
d). Fase Keempat

Fase ini berlangsung sesudah tahun 1930. Pada waktu itu ilmu antropologi mulai mengalami perkembangan yang pesat pada jumlah bahan pengetahuan yang jauh lebih valid, maupun pada ketajaman dari metode ilmiahnya. Hal ini kemudian mengalami hambatan ketika timbulnya antipati terhadap kolonialisme pasca Perang dunia ke II. Akan tetapi para antropolog tidak putus asa dalam menghadapi kendala tersebut. Mereka mulai mengembangkan lapangan-lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang baru, yaitu sasaran dari penelitian tidak lagi hanya suku-suku bangsa primitif yang berada di luar benua eropa, melainkan sudah beralih ke daerah pedesaan di eropa. Didalam fase ini, tujuan ilmu antropologi yang baru dibagi menjadi 2, yaitu tujuan akademikal dan tujuan praktisnya. Tujuan akademikal adalah mengetahui pengertian tentang manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai macam bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya. Sedangakan tujuanpraktisnya yaitu mempelajari berbagai macam bentuk masyarakat, guna membangun masyarakat tersebut.


Sumber: https://civitas.uns.ac.id/kasiono/seva-mobil-bekas/