Pendidikan

Proses Membaca

Proses Membaca

Secara keseluruhan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar, berkomunikasi, dan menggunakan pikiran dan juga perasaan, serta membina persatuan dan kesatuan bangsa. Di SD, khususnya di kelas 1 dan 2 diutamakan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia sederhana melalui membaca, menulis, mengarang dan imla (dikte) dengan menggunakan bahasa Indonesia baku. Untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dasar menggunakan bahasa, dalam kegiatan kegiatan belajar di kelas 1 dan 2 diberikan pengetahuan sederhana tentang lingkungan alam dan sosial.

Menurut Spodek dan Saracho, membaca merupakan proses mendapatkan makna dari barang cetak. Ada dua cara yang ditempuh dalam membaca untuk memperoleh makna dari barang cetak yaitu :

  1. Langsung, yakni menghubungkan ciri penanda visual dari tulisan dengan maknanya.
  2. Tidak langsung, yakni mengidentifikasi bunyi dalam kata dan menghubungkannya dengan makna[1].

Cara pertama digunakan oleh pembaca lanjut dan yang kedua digunakan oleh pembaca permulaan.

Combs membagi kegiatan membaca menjadi tiga tahap yaitu:

1)      Tahap persiapan

Anak mulai menyadari tentang fungsi barang cetak, konsep tentang cara kerja barang cetak, konsep tentang huruf dan konsep tentang kata.

2)      Tahap perkembangan

Anak mulai memahami pola bahasa yang terdapat dalam barang cetak, anak mulai belajar memasangkan satu kata dengan yang lain.

3)      Tahap Transisi

Anak mulai mengubah kebiasaan membaca bersuara menjadi membaca dalam hati. Anak mulai dapat melakukan kegiatan membaca dengan santai[2].

Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan guru dalam pengajaran membaca yaitu:

  1. a)Pengembangan aspek sosial anak
  2. b)Pengembangan fisik
  3. c)Pengembangan kognitif

baca juga:

POS-POS TERBARU