PENJELASAN ULAMA TENTANG HULUL
Pendidikan

PENJELASAN ULAMA TENTANG HULUL

PENJELASAN ULAMA TENTANG HULUL

PENJELASAN ULAMA TENTANG HULUL

Para ulama berbeda pendapat tentang

hulul yang disampaikan oleh Al-Hallaj, mereka menganggap kafir kepada al-Hallaj karna berkata “akulah kebenaran” ketika ia sedang mengalami hulul dan mengeluarkan ungkapan syahadat. Hal ini terjadi karena para ulama tidak sependapat dengan al-Hallaj tentang konsep hulul, yaitu mereka tidak menyetujui konsep itu karena menurut para ulama manusia tidak mungkin tidak bisa bersatu dengan Allah atau Allah tidak mungkin bisa menempati manusia.

Selain itu mereka juga menganggap bi’dah tentang konsep tersebut karena Al-Hallaj mengambil konsep tersebut dari kaum nasrani atau konsep Isa as. Penolakan para ulama terhadap konsep hulul yang di sampaikan oleh Al-Hallaj dan corak tasawufnya bersifat inklusif tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Al-Hallaj. Penolakan itu terjadi karena Al-Hallaj mengambil konsep dari agama kristiani atau kaum nasrani dan mencari kebenaran tidak hanya di dunia tetapi di luar agama Islam juga dia mencari. Mungkin ini adalah alasan utama kenapa para ulama tidak setuju dengan konsep tersebut dan mereka khawatir terhadap kepercayaan al-Hallaj tentang Islam karena kemungkinan  pemikiran dia terkontaminasi dengan dengan ajaran di luar Islam dan takut bisa menghancurkn akidah ummat islam.

            Al-Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi menilai bahwa  seorang yang berkeyakinan hulul atau wahdah al-wujud jauh lebih buruk daripada keyakinan nasrani. Karena dalam keyakinan nasrani tuhan menyatu dengan nabi isa atau dengan maryam sekaligus. Maka, dengan keyakinan denganhulul dan wahdah al-wujud Tuhan menyatu dengan manusia tertentu. Demikian pula dalam penilaian Imam Al-Ghazali dalam pandangan beliau teori yang diyakini dalam kaum nasrani bahwa al-lahut (Tuhan) menyatu dengan al-nasut (Makhluk) kemudian diambil oleh faham hulul dan ittihadadalah kesesatan dan kekufuran. Dalam tinjauan Imam Al-Ghazali dasar keyakinan keduanya suatu yang tidak logis. Kesatuan antara Tuhan dengan hambanya, dengan cara apapun adalah suatu hal yang mustahil, baik antara kesatuan dzat dengan dzat maupun antara kesatuan dzat dengan sifat.


Baca Juga :