Pancasila sebagai Sumber Nilai, Ciri, Sifat, Macam dan Pancasila adalah Sumber Nilai

Pancasila sebagai Sumber Nilai, Ciri, Sifat, Macam dan Pancasila adalah Sumber Nilai

Pancasila sebagai Sumber Nilai, Ciri, Sifat, Macam dan Pancasila adalah Sumber Nilai

Pancasila sebagai Sumber Nilai, Ciri, Sifat, Macam dan Pancasila adalah Sumber Nilai
Pancasila sebagai Sumber Nilai, Ciri, Sifat, Macam dan Pancasila adalah Sumber Nilai

Pengertian Nilai

Nilai atau dalam bahasa inggrisnya dikenal dengan istilah Value sering dihubungkan dengan kebaikan. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila sesuatu tersebut berguna, benar, indah, baik, relegius dan sebagainya. Nilai itu ideal bersifat ide oleh karena itu, nilai adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indra. Yang dapat ditangkap adalah barang atau tingkah laku perbuatan yang mengandung nilai.
Ada dua pandangan tentang cara beradanya nilai, yaitu sebagai berikut.
  • Nilai sebagai sesuatu yang subjektif.
  • Nilai sebagai sesuatu yang obyektif.
Dari pandangan dan pemahaman tentang nilai yang bersifat objektif maupun subjektif, berikut ini dikemukakan beberapa pengertian tentang nilai, yaitu sebagai berikut.
  • Kamus ilmiah populer. Nilai adalah ide tentang apa yang baik, benar, bijaksana, dan apa yang berguna, sifatnya lebih abstrak, dari norma.
  • Kuperman (1983). Nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif. Definisi ini memiliki tekanan utama pada norma sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku manusia, dan sebagai salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sosial.
  • Gordon Allport (1964). Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang  bertindak atas pilihannya. Nilai terjadi pada wilayah psikologis yang disebut keyakinan. Karena itu, keputusan benar salah, baik buruk merupakan hasil dari proses psikologis yang kemudian mengarahkan individu pada perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihannya.
  • Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto. Nilai adalah sesuatu yang diinginkan (fositif) atau sesuatu yang tidak diinginkan (negatif). Nilai bermakna juga sesuatu yang berguna/bermanfaat (nilai kebenaran), indah (nilai esthetis), baik (nilai moral/ethis) dan religius (nilai agama).
  • Hars Junas (Bertens 1999). Menyatakan bahwa nilai adalah alamat sebuah kata ”ya” (value is addres of yes) artinya nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan dengan kata ya. Kata Ya dapat mencakup nilai keyakinan individu, dan penggunaan kata alamat dapat mewakili arah tindakan yang ditentukan oleh keyakinan individu maupun norma sosial.
  • Kurt Baier (VIA:2003). Menafsirkan nilai sebagai suatu keinginan, kebutuhan, kesenangan seseorang sampai pada sanksi dan tekanan dari masyarakat.

Berdasarkan dari pendapat para ahli di atas dapat dipahami bahwa nilai adalah kualitas ketentuan yang bermakna bagi kehidupan manusia perorangan, masyarakat, bangsa dan negara.

Ciri-Ciri Nilai

Nilai dapat dibedakan berdasarkan ciri-cirinya, yaitu sebagai berikut.

  • Internalized value. Yaitu nilai-nilai yang telah menjadi kepribadian bawah sadar atau yang mendorong timbulnya tindakan tanpa berpikir lagi. Bila dilanggar akan menimbulkan perasaan malu atau bersalah yang mendalam serta sukar dilupakan.
  • Nilai dominan. Nilai dominan dianggap lebih penting daripada nilai-nilai lainnya. Hal ini tampak pilihan yang dilakukan seseorang pada waktu berhadapan dengan beberapa tindakan yang harus diambil.

Sifat-Sifat Nilai

Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986), adalah sebagai berikut.

  • Suatu realitas abstrak, artinya nilai seperti sebuah ide, dalam arti tidak dapat ditangkap melalui indera, yang dapat ditangkap adalah obyek yang memiliki nilai. Misalnya, nilai kejujuran.
  •  Bersifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal (dos sollen), yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku. Misalnya, Nilai keadilan.
  • Berfungsi sebagai daya dorong manusia artinya nilai menjadi pendorong/motivator hidup manusia, tindakan manusia digerakkan oleh nilai. Misalnya, nilai ketakwaan.

 Macam-Macam Nilai

Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu sebagai berikut.
  • Nilai logika adalah nilai benar salah.
  • Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah (jelek).
  • Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk.

Darmodihardjo, dkk menggolongkan nilai secara berpasangan, yaitu sebagai berikut.

  • Nilai obyektif dan nilai subyektif. Nilai obyektif adalah nilai yang dilihat berdasarkan kondisi dari suatu objek, sedangkan subyektif adalah nilai yang diberikan oleh seseorang (subjek).
  • Nilai positif dan nilai negatif. Nilai positif adalah nilai yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, baik ditinjau dari sudut kepentingan lahiriah maupun batiniah, contohnya nilai kebaikan dan kesusilaan. Nilai negatif ialah nilai yang merupakan lawan dari positif, contohnya adalah nilai kejahatan, keburukan, dan ketidaksusilaan.
  • Nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Nilai intrinsik adalah nilai dari sesuatu yang sejak semula sudah ada. Misalnya nilai intrinsik pisau adalah bila pisau itu mempunyai kualitas pengirisan. Nilai ekstrinsik adalah nilai yang bergantung pada nilai intrinsik dari akibat-akibatnya.
  • Nilai transenden dan nilai imanen. Nilai transenden ialah nilai yang melampui batas-batas pengalaman dan pengetahuan manusia. Misalnya nilai ketuhanan, sebagai nilai yang mengatasi pengalaman dan rasio manusia. Nilai imanen ialah nilai yang terkait dengan pengalaman dan pengetahuan manusia. Misalnya melalui pengetahuan inderawi dan rasio manusia diperoleh rasa asin, manis, luas, sempit dan lain-lain.
  • Nilai dasar dan nilai instrumental. Nilai dasar adalah nilai yang bersifat tetap dan tidak berubah, dipilih sebagai landasan bagi nilai instrumental yang diwujudkan dalam kehidupan. Nilai ini meliputi nilai obyektif, positif, intrinsik dan transenden. Nilai instrumental adalah nilai yang merupakan usaha konkretisasi dari nilai dasar, biasanya dituangkan dalam bentuk norma dan dijadikan sebagai acuan dalam bersikap, misalnya Pancasila.
Menurut Spranger (Allport 1964) terdapat enam klasifikasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh manusia dalam kehidupannya, adalah sebagai berikut.
  • Nilai teoritik. Nilai ini melibatkan pertimbangan logis dan rasional dalam memikirkan dan membuktikan kebenaran sesuatu. Karena itu nilai erat kaitannya dengan konsep, aksioma, prinsip, teori, dan generalisasi yang diperoleh dari pengamatan dan pembuktian ilmiah.
  • Nilai ekonomis. Nilai ini terkait dengan pertimbangan nilai yang berkadar untung-rugi. Obyek yang ditimbangnya adalah “harga” dari suatu barang atau jasa. Karena itu, nilai lebih mengutamakan kegunaan sesuatu bagi kehidupan manusia. Nilai ekonomi dapat ditemukan dalam pertimbangan nilai produksi, pemasaran dan lain-lain.
  • Nilai estetik. Nilai ini menempatkan nilai tertingginya pada bentuk keharmonisan. Apabila nilai ini ditilik dari sisi subyek yang memilikinya, maka akan muncul kesan indah-tidak indah. Jadi nilai estetik ini lebih mengandalkan pada hasil penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif.
  • Nilai sosial. Nilai tertinggi yang terdapat pada nilai ini adalah kasih sayang antar manusia. Nilai ini banyak dijadikan pegangan hidup bagi orang yang senang bergaul dan cinta sesama manusia. Karena itu nilai sosial dapat dicapai dalam konteks hubungan interpersonal, yakni ketika seseorang dengan yang lainnya salin memahami.
  • Nilai politik. Nilai tertinggi dalam nilai ini adalah kekuasaan. Karena itu kadar nilainya akan bergerak dari intensitas pengaruh yang rendah sampai pada pengaruh yang tinggi (otoriter). Nilai politik ini menjadi tujuan utama orang tertentu, seperti para politis atau penguasa.
  • Nilai agama. Nilai ini memiliki dasar kebenaran yang paling kuat. Nilai ini bersumber  dari kebenaran tertinggi dari Tuhan. Kelompok manusia yang memiliki orientasi kuat terhadap nilai ini adalah para Nabi, imam atau orang-orang yang shaleh.

Notonegoro dalam Koelan (2000) menyebutkan adanya tiga nilai, diantaranya sebagai berikut.

  • Nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia.
  • Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.
  • Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia, meliputi berikut ini.
  1. Nilai kebenaran/kenyataan dan bersumber pada akal manusia (ratio, budi, cipta).
  2. Nilai keindahan dan bersumber pada unsur rasa manusia (perasaan estetis).
  3. Nilai kebaikan atau nilai normal, bersumber pada unsur kehendak/kemauan manusia (karsa/ethik).
  4. Nilai relegius yang merupakan nilai ketuhanan, kerohanian yang tinggi dan mutlak.

Sumber: https://www.studinews.co.id