Memberontak Pendidikan Merdeka

Memberontak Pendidikan Merdeka

Memberontak Pendidikan Merdeka

Memberontak Pendidikan Merdeka
Memberontak Pendidikan Merdeka

Suatu saat saya berbincang dengan seorang teman tentang pendidikan

dan pengalamannya. Ia datang dari kalangan yang sangat berada: Secara sosial, ekonomi, dan politik. The privileged (yang teristimewakan), kata orang. Bagian dari crème de la crème-nya republik ini.
ADVERTISEMENT
Ia menempuh pendidikan dasar hingga atas di beberapa lembaga pendidikan yang dianggap terbaik negeri ini. Lalu meneruskan pendidikan tingginya di salah satu universitas terbaik di luar negeri.

“Saya tidak terlalu ingat apa yang saya dapat ketika bersekolah.

Mungkin karena termasuk yang tidak pintar,” katanya diikuti tawa lepas.
“Satu hal saja belakangan saya sadar, jaringan. Semua kolega kerja dan bisnis saya sekarang, pada satu ketika adalah teman satu sekolah. Kami saling mencari, berhubungan, saling memberi rekomendasi,” katanya, kali ini dengan wajah serius.
“Menempuh pendidikan itu sama dengan membangun jejaring.”
To each his own. Semua orang punya pandangan-keperluannya sendiri-sendiri.
Dua generasi sebelum kawan ini, kakeknya menjadi bagian dari kaum terdidik Indonesia lewat apa yang disebut politik etis penjajah Belanda.
ADVERTISEMENT

Tinggal di pelosok namun merupakan salah satu pusat perkebunan saat itu,

kakeknya terserap sistem pendidikan kebijakan balas jasa Belanda ke wilayah yang mereka jajah.
Walau balas jasa itu banyak dituduh bersifat semu—Belanda membutuhkan tenaga administratif yang minimal mempunyai kemampuan baca tulis dan karenanya diadakan pendidikan untuk pribumi—, kakek dari teman ini menjadi “tercerahkan”.
Lewat pendidikan dasar yang tidak seberapa, kakek dari teman ini mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran besar dunia: Tentang arti penjajahan, persamaan hak, sejarah dunia, sastra, dan segala macam yang dianggap modern.
Berbekal pendidikan dasar yang ia dapat, bukannya menjadi tenaga administrasi perkebunan setempat, kakek teman ini melanjutkan pendidikan ke kota. Di kota ia terlibat dalam gerakan untuk memerdekakan Indonesia. Menjadi salah satu tokohnya. Sepertinya wajar saja ketika Indonesia merdeka ia kemudian menjadi bagian dari elite politik Indonesia.
Bagi kakek teman ini, pendidikan yang pada awalnya membawa sebuah pencerahan pada akhirnya menjadi sebuah alat mobilitas sosial. Membawanya dari strata sosial bawah ke paling tinggi.
Pendidikan memang bermuka banyak. Spektrumnya sangat luas. Apalagi ketika masuk ke sebuah sistem pendidikan massal seperti yang kita hadapi saat ini.
Ia bisa menjadi alat pencerah—mendorong manusia untuk terus berpikir dan mungkin memberontak agar dunia menuju ke sebuah peradaban yang lebih baik—tetapi juga bisa menjadi alat ketertundukan pada sebuah ide dan sistem.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/