Agama

khitbah secara syar’i

Pengertian khitbah secara syar’i

Pengertian khitbah secara syar’i

التماس الخاطب النكاح المخطوبة او من وليها[1

“Permintaan menikah dari pihak laki-laki yang mengkhitbah kepada wanita yang akan dikhitbah atau kepada wali wanita itu”. (Mughny al-Muhtaj juz III, hlm. 135).Peminangan dalam ilmu fiqih disebut “khitbah” artinya “permintaan”. Sedangkan menurut istilah adalah pernyataan atau permintaan dari seorang laki-laki kepada pihak seorang wanita untuk mengawininya baik dilakukan oleh laki-laki secara langsung atau dengan perantaraan pihak lain yang dipercayainya sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama.

Dalam Islam, hukum meminang adalah boleh, meminang wanita yang tidak bersuami atau tidak sedang dalam masa ‘iddah Talak raj’i yang mungkin akan rujuk. Boleh hukumnya meminang seorang wanita dalam masa ‘iddah yang ditinggal meninggal oleh suaminya atau talak ba’in dan wajib menggunakan ungkapan sindiran atau ta’ridh, bahkan Imam Syafi’i mengharamkan dengan ungkapan terang-terangan. Sedangkan haram hukumnya apabila meminang seorang wanita yang memiliki suami atau sedang dalam masa ‘iddah talak raj’i atau sedang dalam pinangan orang lain (dalam artian pinangan dari laki-laki pertama telah diterima oleh wanita tersebut atau wali dari wanita tersebut.

1. Syarat-syarat meminang

Ada dua macam syarat-syarat meminang yaitu:
a. Syarat mustahsinah
b. Syarat lazimah
a. Syarat mustahsinah

Yang dimaksud dengan syarat mustahsinah

ialah syarat yang berupa anjuran kepada seorang laki-laki yang akan meminang seorang wanita agar ia meneliti lebih dahulu wanita yang akan dipinangnya itu, sehingga dapat menjamin kelangsungan hidup berumah tangga kelak. Syarat mustahsinah ini bukanlah syarat yang wajib dipenuhi sebelum peminangan dilakukan, tetapi hanya berupa anjuran dan kebiasaan yang baik saja.

Tanpa syarat-syarat ini dipenuhi peminangan tetap sah.

Yang termasuk syarat-syarat mustahsinah

ialah:
1) Wanita yang dipinang itu hendaklah sejodoh dengan laki-laki yang meminangnya, seperti sama kedudukannya dalam masyarakat, sama-sama baik bentuknya, sama dalam tingkat kekayaannya, sama-sama berilmu dan sebagainya. Adanya keharmonisan dan keserasian dalam kehidupan suami istri diduga perkawinan akan mencapai tujuannya sesuai dengan hadits Nabi:
تنكح المراة لاربع لمالها و لحسابها و لجمالها و لدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك (رواه البخارى و مسلم)
Artinya:
“Wanita itu dikawini karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukanya, karena kecantikanya dan karena agamanya, maka pilihlah yang beragama, semoga akan selamatlah hidupmu.”
2) Wanita yang akan dipinang itu hendaklah wanita yang mempunyai sifat kasih sayang dan wanita yang peranak sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW

تزوجواالودود الولود إنى مكاثر بكم الانبياء يوم القيامة (رواه احمد وصححه ابن حبان)
Artinya:
“Kawinilah olehmu wanita yang pecinta dan peranak, maka sesungguhnya aku bermegah-megahan dengan banyaknya kamu itu terhadap nabi-nabi yang lain di hari kiamat.
3) Wanita yang akan dipinang itu hendaklah wanita yang jauh hubungan darahnya dengan laki-laki yang akan meminangnya. Agama melarang seorang laki-laki mengawini seorang wanita yang sangat dekat hubungan darahnya. Dalam pada itu Sayyidina Umar Bin Khattab menyatakan bahwa perkawinan antara seorang laki-laki yang dekat hubungan darahnya akan menurunkan keturunan yang lemah jasmani dan rohaninya. Beliau berkata kepada Bani Sa’ib:
قد ضويتم فانكحوا الغرائب
“Sesungguhnya kamu telah lemah-lemah, maka nikahlah dengan orang asing (yang jauh hubungan keturunannya denganmu).”

4) Hendaklah mengetahui keadaan-keadaan jasmani, budi pekerti dan sebagainya dari wanita-wanita yang dipinang. Sebaliknya yang dipinang sendiri harus mengetahui pula keadaan yang meminangnya.

b. Syarat Lazimah

Yang dimaksud dengan syarat lazimah ialah syarat yang wajib dipenuhi sebelum peminangan dilakukan.

Sumber: https://www.wfdesigngroup.com/