Agama

Kafaah (persesuaian calon suami isteri)

Kafaah (persesuaian calon suami isteri)

Kafaah (persesuaian calon suami isteri)

الكفاءة(kafa’ah)

sinonim dengan al-mumatsalah yang artinya sebanding atau seimbang. Kafaah dalam nikah maksudnya adalah sebanding dan seimbang antara calon suami dan isteri baik itu dari sudut agama, akhlak, kedudukan dan status sosial.

Yang dimaksud dengan kufu adalah bahwa seorang laki-laki harus kufu dengan wanita, dimana wanita itu tidak dinikahi seorang laki-laki yang akan menyebabkan dirinya (wanita itu) atau keluarganya menjadi terhina menurut kebiasaan atau tradisi masyarakat.

Dasar nash tentang kafa’ah ini adalah hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim tentang memilih isteri yang baik, yaitu:
تنكح المرأة لأربع لمالها و لحسابها و لجمالها ولدينها, فاظفر بذات الدين تربت يداك
Artinya:
“Wanita itu dikawini karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukanya, karena kecantikanya dan karena agamanya, maka pilihlah yang beragama, semoga akan selamatlah hidupmu.”
Secara mafhum hadits ini berlaku pula untuk wanita yang memilih calon suami. Dan khusus tentang calon suami ditegaskan lagi oleh hadits al-Turmudzy riwayat Abu Hatim al-Mudzanny:
اذا اتاكم من ترضون دينه وخلقه فانكحوه (رواه الترميذى)
“Bila datang kepadamu (hai wali), seorang laki-laki yang sesuai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah anakmu kepadanya”.

Kafa’ah dapat menjadi bahan pertimbangan dalam nikah, tetapi bukan menyangkut keabsahannya, melainkan menyangkut hak mempelai wanita dan walinya, keduanya berhak menggugurkan pertimbangan ini.

Para fuqaha sepakat bahwa kafa’ah hanya berlaku bagi pihak pria untuk wanita, tidak sebaliknya. Jadi apabila seorang pria memilih seorang wanita yang tidak sekufu dengannya tidak menjadi masalah dalam kafa’ah.

Ibnu Manzhur mendefinisikan kafa’ah

dengan keadaan seimbang. Kafa’ah berasal dari kata asli al-kuf’u diartikan al-musawi (keseimbangan). Ketika dihubungkan dengan nikah, kafa’ah diartikan dengan keseimbangan antara calon suami dan istri, dari segi kedudukan (hasab), agama (din), keturunan (nasab) dan semacamnya. Sementara di dalam istilah para fuqaha, kafa’ah didefinisikan dengan kesamaan di dalam hal-hal kemasyarakatan, yang dengan itu diharapkan akan tercipta kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kelak, dan akan mampu menyingkirkan kesusahan. Namun dari sekian kualifisikasi yang ditawarkan, hanya satu kualifikasi yang disepakati oleh fuqaha’ yaitu kualifikasi kemantapan agama (din) dengan arti agama (millah) serta taqwa dan kebaikan (al-taqwa wa al-shilah). Adapun kualifikasi lain seperti unsur kemerdekaan, nasab, agama ayah, bersih dari penyakit, sehat akal, ada perbedaan sikap di kalangan para fuqaha. Ada yang mengakui bisa dijadikan unsur kafa’ah, sebaliknya ada yang berpendapat tidak. Dengan bahasa lain Muhammad Abu Zahrah mendefinisikan kafa’ah dengan keseimbangan calon suami istri dengan keadaan tertentu, yang dengan keadaan itu mereka akan bisa menghindari kesusahan dalam mengarungi hidup rumah tangga. Dengan ringkas kafa’ah adalah keseimbangan antara calon suami dan istri. Adapun unsur keseimbangan tersebut diperdebatkan ulama.

Berbicara tentang asal-usul konsep ini, sedikitnya dimunculkan teori. Teori pertama oleh M. M. Bravmann yang berpendapat, konsep ini muncul sejak masa pra-Islam. Untuk mendukung teori ini Bravmann menulis beberapa kasus yang pernah terjadi, misalnya kasus rencana pernikahan Bilal. Di samping itu dia juga menulis kasus lain yang di dalam pernikahan itu sendiri dapat dilihat adanya kafa’ah. Bahkan di dalam rencana perkawinan tersebut kata kafa’ah disebutkan dengan jelas.

Baca Juga: