Etika Berbisnis Dengan Sahabat

Etika Berbisnis Dengan Sahabat

Etika Berbisnis Dengan Sahabat

Etika Berbisnis Dengan Sahabat

Etika Berbisnis Dengan Sahabat

Berbisnis dengan kerabat tidak boleh dilakukan dengan sembarangan atau terlalu “lunak”. Karena berbisnis dengan kerabat juga tetap mempunyai aturan dan etikanya sendiri. Merintis usaha dengan kerabat, khususnya kerabat dekat, memang sudah banyak dilakukan oleh para pelaku usaha. Karena setelah merasa cocok dengan hubungan kekeluargaan, pertemanan dan keakraban yang terjalin di kehidupan sehari-hari, seringkali menimbulkan keinginan untuk berbisnis bersama (joint venture). Merintis usaha bersama memang tidak ada salahnya, tetapi cara atau etika yang mengikuti bisnis itulah yang harus diperhatikan. Mempunyai ide kreatif untuk merintis usaha bersama memang menggiurkan karena bisa join modal dan tenaga serta pemikiran. Tetapi untuk membuat bisnis Anda berjalan secara professional, anda harus bisa membedakan mana yang hubungan bisnis dan mana yang hubungan pertemanan. Karena pada kenyataannya, dunia pertemanan dengan dunia bisnis itu sangat berbeda. Jika hal ini tidak diperhatikan dengan baik, maka hubungan kekerabatan yang sudah terjalin bisa rusak begitu saja karena perselisihan bisnis.
Berbisnis dengan kerabat perlu memperhatikan beberapa etika yang wajib diketahui oleh kedua belah pihak sebelum mulai menjalankan bisnis bersama:

1. Menentukan Mitra Bisnis

Sebelum Anda mulai merintis usaha bersama, sebaiknya Anda juga menentukan siapa saja mitra bisnis Anda dan berapa jumlah orang yang berminat untuk masuk ke dalam usaha tersebut. Jangan lupa juga untuk memastikan bahwa mereka yang Anda ajak untuk bergabung mempunyai minat dan passion yang sama. Anda juga harus sudah mengenal sifat dan karakter masing-masing dengan baik secara personal agar bisa lebih mudah meng-handle manajemen di dalam perushaaan. Kemudian untuk menentukan jumlah personal, untuk bisnis pemula, Anda sebaiknya memilih maksimal 3 mitra. Karena semakin banyak kepala akan lebih sulit untuk mengatur dan menggabungkan ide dari masing-masing kepala. Selain itu, jika terlalu banyak mitra malah juga akan semakin sulit untuk mengatur pembagian hasilnya.

2. Membuat Aturan Resmi atau Perjanjian Hitam Diatas Putih

Walaupun Anda berbisnis dengan orang-orang yang sudah Anda kenal dan mempunyai hubungan kekerabatan atau pertemanan, tetap saja harus bisnis ini harus dilandasi oleh dasar profesionalisme. Untuk itulah, anda dan para mitra harus membuat aturan resmi atau perjanjian hitam di atas putih agar nanti ke depannya tidak ada penyimpangan dari brbagai belah pihak. Perjanjian ini harus Anda buat dalam beberapa rangkap untuk kemudian dibagikan untuk semua mitra Anda. Kemudian lengkapi surat perjanjian tersebut dengan materai agar mempunyai kekuatan hokum dan tanda tangan kedua belah pihak. Jangan lupa untuk mendatangkan beberapa saksi agar lebih kuat.

3. Tentukan System Pembagian Yang Jelas

Karena di dalam membangun sebuah kemitraan, anda harus memastikan bahwa semua pembagian dilakukan dengan system yang jelas dan diketahui oleh kedua belah pihak. Baik itu pembagian tugas, pembagian keuntungan, dan lain sebagainya. Lakukan pembagian ini secara transparan dan melalui kesepakatan semua mitra. Karena yang seringkali terjadi adalah banyaknya perselisihan terjadi karena ketidakjelasan dan ketidaktransparanan tugas, wewenang dan pembagian hasil usaha.

4. Bedakan Masalah Bisnis Dengan Masalah Pribadi

Sikap profesional Anda benar-benar diuji dalam menjalankan bisnis dengan kerabat dan teman. Resensi Karena dengan mencampur masalah pribadi dengan masalah bisnis, suasana perusahaan akan menjadi lebih keruh dan hal ini akan membuat situasi kerja menjadi tidak kondusif dan tidak nyaman.

5. Membangun Komunikasi Yang Efektif dan Menghindari Campur Tangan Orang Lain

Karena komunikasi antar mitra akan lebih maksimal untuk membangun kerajaan bisnis daripada terpengaruh oleh campur tangan pihak lain.