‘Dikepung’ Mahasiswa, Ini Masukan Menkes

‘Dikepung’ Mahasiswa, Ini Masukan Menkes

‘Dikepung’ Mahasiswa, Ini Masukan Menkes

‘Dikepung’ Mahasiswa, Ini Masukan Menkes
‘Dikepung’ Mahasiswa, Ini Masukan Menkes

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pulang kampung ke kampus Universitas Indonesia (UI).

Nila memaparkan isu-isu kesehatan kepada para mahasiswa baru UI dengan tema “Mahasiswa UI yang sehat dan berintegritas serta berprestasi”. Nila menilai kemajuan suatu bangsa sangat tergantung dari kesehatan dan angka kecukupan gizi generasi mudanya.

Hal itu akan terkait erat dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Nila menyebutkan IPM Indonesia masih berada di angka 213 dunia. Angka itu masih jauh tertinggal dari negara tetangga Singapura. Pasalnya, Singapura juga memiliki penduduk yang lebih sedikit.

“Indonesia masih 213 dunia, beda tipis dengan Vietnam. Lalu kalau Singapura nomor

1 di Asia Tenggara,” jelasnya dalam orasinya di hadapan ribuan mahasiswa baru di Balairung Universitas Indonesia (UI) Kampus Depok, Senin (31/7).

Nila mengaitkannya dengan kemiskinan dan gizi yang masih memerlukan banyak upaya keras. Apalagi di masa keemasan atau 1000 hari pertama (Golden Age), menurutnya perlu diberikan intervensi gizi khusus. Pada saat itu otak anak sedang dalam pertumbuhan yang cepat.

“Anak usia 1000 hari kehidupan ini betul-betul diasuh dengan baik. Jadi manusia

yang diharapkan akan berkualitas. Bayangkan jika anak lahir stunting (kerdil) maka bangsa akan kehilangan anak-anak berkualitas,” ungkapnya.

Nila mengaku heran berbagai upaya intervensi pemerintah terus dilakukan untuk menurunkan angka kemiskinan. Namun angka kemiskinan cenderung landai atau lambat menurunnya.

“Pemerintah sudah kasih Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, Program Keluarga Harapan, Beras Sejahtera. Tetapi kenapa angka kemiskinan turunnya landai sekali. Ini perlu dipikirkan, barangkali dari perilaku kita juga,” kata alumnus almamater Fakultas Kedokteran UI ini.

Dokter Spesialis Mata itu menyebutkan penduduk miskin Indonesia mencapai 27,7 juta orang. Mereka tak bisa mengakses fasilitas kesehatan. Karena itu 52 persen diberikan premi yang dibayarkan pemerintah.

“Ini tak gratis pemerintah yang bayar lewat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 179 juta jiwa. Sebanyak 70 persen tercover asuransi kesehatan,” ungkapnya.

 

Sumber :

https://www.buzzfeed.com/danuaji/signs-of-the-cat-infected-with-rabies-6gklbipwse