Atlantik Himasper IPB Jaga Kelestarian Penyu melalui Gerakan Ekspedisi Ekobiologi Penyu

Atlantik Himasper IPB Jaga Kelestarian Penyu melalui Gerakan Ekspedisi Ekobiologi Penyu

Atlantik Himasper IPB Jaga Kelestarian Penyu melalui Gerakan Ekspedisi Ekobiologi Penyu

Atlantik Himasper IPB Jaga Kelestarian Penyu melalui Gerakan Ekspedisi Ekobiologi Penyu
Atlantik Himasper IPB Jaga Kelestarian Penyu melalui Gerakan Ekspedisi Ekobiologi Penyu

Sebanyak 22 mahasiswa dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (MSP FPIK IPB) melakukan Ekspedisi Ekobiologi Penyu di Suaka Margasatwa Cikepuh Sukabumi, (23-29/8).

Peserta ekspedisi ini berasal dari Kelompok Studi dan Pemerhati Lingkungan Perairan (Atlantik) yang bernaung di bawah Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (Himasper) MSP FPIK IPB. Perjalanan panjang ditempuh untuk mencapai daerah pengamatan yaitu Pantai Citirem dan Pantai Hujungan yang terletak di dalam Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh Sukabumi.

Ekspedisi Ekobiologi Penyu telah dimulai sejak tahun 2014. Ekspedisi ini

dilakukan untuk memonitoring serta menganalisis ekobiologi dan pengelolaan kawasan peneluran penyu hijau di Pantai Citirem dan Pantai Hujungan. Keberadaan penyu hijau menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) sudah terancam sedangkan dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) penyu digolongkan pada Apendiks I yang berarti dilarang diperdagangkan secara internasional.

Keberadaan penyu yang semakin hari populasinya semakin berkurang disebabkan adanya pencurian telur, kerusakan habibat dan serangan predator. Terkait hal tersebut, rangkaian kegiatan yang dijalani selama ekspedisi adalah pengamatan fisik, biologi pantai, dan morfometrik penyu, serta wawancara dengan warga sekitar.

Selain itu, sosialisasi dengan warga setempat mengenai pentingnya menjaga keberadaan

penyu juga dilakukan di sela-sela kegiatan wawancara. Hal yang dapat dilakukan oleh warga setempat adalah dengan menjaga telur penyu hingga menetas dan kembali lagi ke habitat aslinya. Dengan begitu, kelestarian penyu hijau di daerah tersebut dapat menjaga keseimbangan ekosistem laut.

“Pengamatan dilakukan setiap hari. Namun, kami baru menemukan penyu keluar ke bibir pantai untuk bertelur pada tanggal 28 Agustus. Telur yang ditemukan sebanyak 88 butir dari satu induk penyu. Kemudian, kami menemukan penyu kembali pada keesokan harinya. Hasil penemuan penyu tahun ini berkurang daripada tahun sebelumnya. Kami hanya menemukan penyu di Pantai Hujungan saja,” ungkap salah satu peserta Ekspedisi Ekobiologi Penyu V, M Sultan Ritonga.

“Hasil ekspedisi ini akan dipaparkan dalam seminar pada kegiatan Festival Air yang akan digelar oleh Himasper IPB pada bulan November mendatang. Seminar tersebut akan memaparkan hasil pengamatan dan kejadian-kejadian yang kami lalui selama ekspedisi. Mulai kedatangan kami di Suaka Margasatwa hingga penggerebekan pencuri telur penyu oleh oknum tidak bertanggung jawab akan kami paparkan,” tambahnya

 

Baca Juga :