Umum

Akibat Pertempuran Medan Area

Akibat Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan Area berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Akan tetapi kedua pihak, Indonesia dan Belanda, selalu bertikai mengenai garis demarkasi ini. Empat bulan setelah akhir pertempuran ini, Belanda melaksanakan Operatie Product atau disebut Agresi Militer Belanda I.

Ada beberapa akibat dari Pertempuran Medan Area ini, yaitu :

  1. Terbaginya kawasan Medan oleh garis demarkasi
  2. Perpindahan pusat pemerintahan Provinsi Sumatera ke Pematang Siantar

Pertempuran Medan Area adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Medan, Sumatera Utara.

Tahun 1945 – 1949 adalah momen krusial bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Belanda, yang dengan bantuan Inggris dapat kembali ke Indonesia, berusaha keras untuk mendapatkan kembali ‘apa yang telah dirampas Jepang sebelumnya’ yaitu Indonesia, walaupun saat itu Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Disisi lain, Indonesia, sebuah negara yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya (Indonesia adalah negara pertama yang memproklamasikan kemerdekaan setelah Perang Dunia II), mati matian untuk mempertahankan kemerdekaannya yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

Tak ayal, terjadi banyak pertempuran di berbagai daerah. Dengan semangat, para pejuang bertarung sekuat tenaga untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Republik yang baru berdiri ini. Tak terkecuali di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan.

Di Sumatera Utara, perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, bisa dibilang, dilakukan di segala medan tempur. Mulai dari perbukitan Berastagi, kilang minyak Pangkalan Berandan hingga jalanan Kota Medan. Kali ini, kita khusus membahas tentang Pertempuran Medan Area yang bertujuan untuk membebaskan Kota Medan dari Sekutu.

Sekalipun nama pertempurannya ‘Medan Area’ yang diambil dari kata kata di papan yang dipasang di perbatasan kota Medan “Fixed Boundaries Medan Area”, pertempuran ini berkobar hingga ke luar Kota Medan. Pertempuran ini dimulai pada 13 Oktober 1945 setelah insiden Jalan Bali, dan penyerbuan terakhir para pejuang dilaksanakan pada 15 Februari 1947. Pertempuran ini, menurut sekretaris Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik, tidak kalah heroik dibandingkan pertempuran Surabaya karena para pejuang dalam pertempuran ini plural dan jangka waktunya yang panjang.

POS-POS TERBARU