Teknologi

20 persen ponsel yang beredar di Indonesia dari black market

20 persen ponsel yang beredar di Indonesia dari black market

20 persen ponsel yang beredar di Indonesia dari black market

Sekitar 20 persen dari ponsel pintar yang beredar di Indonesia, masuk ke negara ini tanpa melalui registrasi dan sertifikasi dari pihak berwenang atau ilegal melalui saluran pasar yang biasa disebut sebagai black market.

Jika dalam setahun ada 45 juta unit ponsel pintar yang terjual di Indonesia

, berarti sekitar 9 juta di antaranya adalah ponsel ilegal dengan nomor International Mobile Equipment Identity (IMEI) tidak terdaftar di lembaga berwenang di sini, demikian menurut Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) dalam siaran persnya, Senin.

Director Government Affairs Qualcomm International Nies Purwati menjelaskan, masih tingginya peredaran ponsel pintar ilegal di Indonesia didorong oleh sejumlah faktor.

Baca juga: Risiko beli ponsel ilegal

Diterapkannya sistem DIRBS (Device Identification, Registration, and Blocking System) untuk pengendalian IMEI. Hal tersebut memicu peredaran ponsel black market yang tujuan awalnya ke negara lain, beralih ke Indonesia.

Ada juga ponsel ilegal yang bersumber dari dalam negeri, baik perakitan

maupun penjualannya, baik melalui media sosial maupun dijual via toko online.

“Untuk Indonesia, kategori ponsel ilegal ditambah lagi, illegal smuggling, ponsel BM (black market),” ujar dia.

Perkiraan APSI, potensi nilai pajak yang hilang dari penjualan ponsel pintar

secara ilegal di Indonesia mencapai Rp2,8 triliun per tahun.

Beberapa kategori yang membuat ponsel pintar dikatakan ilegal menurut GSMA adalah IMEI tidak sesuai format, IMEI tidak valid, adanya penggandaan IMEI, penyalahgunaan IMEI dan penggunaan IMEI sementara.

 

Baca Juga :